Gaya Busana: Antara Tren Online dan Selera Pribadi

Beberapa waktu lalu saya mampir ke warung kopi langganan di pinggir jalan utama Pulausalando. Di sana duduk sekelompok anak muda dengan gaya busana yang langsung menarik perhatian saya: atasan loose fit, celana cargo longgar, dan sepatu sneakers warna mencolok. Saya jadi inget bagaimana dulu tahun 2020, saat saya baru mulai menulis tentang fashion, gaya seperti ini belum terlalu umum. Sekarang, hampir setiap sudut kota, kombinasi serupa bisa ditemui. Perubahan ini bukan terjadi sebntar ajah. Ada peran besar dari media sosial dan komunitas online yang membentuk selera banyak orang.
Dari Feed Instagram ke Lemari Pakaian
Yang menarik, tren busana sekarang nggak lagi semata-mata datang dari majalah atau peragaan di kota besar. Saya lihat banyak anak muda di sini justru terinspirasi dari unggahan kreator konten lokal atau internasional di Instagram dan TikTok. Mereka nggak sekadar meniru, tapi memadukan dengan barang yang ada di pasar tradisional atau toko daring. Contohnya, jaket vintage yang dulu jarang dipakai, kini mendadak laris manis setelah beberapa akun fashion remaja mempopulerkannya. Di Pulausalando sendiri, saya sering denger obrolan di grup WA tentang di mana dapat celana jeans model tertentu dengan harga terjangkau. Komunitas online seperti ini menjadi semacam katalog hidup yang terus diperbarui.
Namun, saya juga melihat sisi lain. Nggak semua orang nyaman mengikuti arus. Beberapa teman memilih gaya yang lebih personal—kemeja batik dengan potongan modern, misalnya—karena mereka merasa tren massal terlalu cepet berganti. Menurut saya, inilah yang bikin dunia fashion di Indonesia menarik. Ada dialog antara tekanan untuk tampil “kekinian” dan keinginan untuk tetap autentik. Dari pengamatan saya enam tahun nulis, fleksibilitas semacam ini justru menjadi ciri khas gaya busana anak muda sekarang. Mereka lebih sadar bahwa pakaian adalah cara bercerita, bukan sekadar seragam sosial.
Nggak bisa dipungkiri, media sosial mempercepat penyebaran tren. Tapi yang paling berkesan buat saya adalah bagaimana orang tetap menyisipkan identitas lokal di tengah arus global. Seperti yang saya saksikan di warung kopi tadi, di antara sneakers warna-warni itu ada yang memakai gelang anyaman dari pasar seni dekat rumah saya. Kecil, tapi bangeet bermakna.

Penutupnya, saya rasa tiap orang punya cara sendiri untuk mengekspresikan diri lewat busana. Tren online bisa menjadi inspirasi, tapi keputusan akhir tetap di tangan pemakainya. Pulausalando mengajarkan saya bahwa gaya busana tidak harus mahal atau selalu baru—yang penting nyaman dan mewakili siapa kita.